Paibon Hyang Sari Ungasan: Sad Kahyangan
Headlines News :

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Sad Kahyangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sad Kahyangan. Tampilkan semua postingan

Bhatara Hyang Guru, Sudah Kenal?, Ini Penjelasannya

Written By hyangsari on Kamis, 22 Desember 2016 | 09.42.00

Dalam lontar Sundarigama yang pada saat Pagerwesi merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru, kita sujud kepada-Nya, merenung dan memohon agar hidup kita ini direstui-Nya dengan kesentosan, kemajuan hidup dll. Gbr Ist
Didalam agama Hindu khususnya di Bali, Bhatara Hyang Guru (Bhatara Guru) yang juga disebut Sang Hyang Pramesti Guru adalah guru sejati. Bhatara Surya memberikan gelar kehormatan “Bhatara Guru” sebagai ucapan terima kasih karena telah menjadi salah satu anak muridnya Dewa Siwa. Gelar itu diberikan kepada beliau karena Dewa Siwa merupakan guru dari para Dewa.

Dalam lontar Sundarigama yang pada saat Pagerwesi merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru, kita sujud kepada-Nya, merenung dan memohon agar hidup kita ini direstui-Nya dengan kesentosan, kemajuan hidup dll.

Dalam Tutur Gong Besi (kelompok naskah yang memuat ajaran Siwaistik) Bhatara Guru adalah Dewa Siwa itu sendiri dengan sebutan Ida Bhatara Dalem.

Ida Bhatara Dalem adalah Bhatara Guru sebagai Sanghyang Paramawisesa, karena semua rasa baik, rasa sakit, rasa sehat, rasa lapar dan sebagainya adalah beliau sumbernya.

Beliau adalah asal dari kehidupan, beliau memelihara alam semesta ini dan beliaulah penguasa alam kematian yang tidak ada melebihi beliau sehingga beliau juga disebutkan dengan Sanghyang Pamutering Jagat.

Karena kemahakuasaan beliau sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur, beliau disebut dengan banyak nama, sesuai dengan fungsi dan tempat beliau berstana. Yaitu sebagai berikut:
  1. Di Pura Puseh, beliau dipuja sebagai Sanghyang Triyodasa Sakti
  2. Di Pura Desa, beliau dipuja sebagai Sanghyang Tri Upasedhana
  3. Di Pura Bale Agung, beliau dipuja sebagai Sanghyang Bhagawati
  4. Di perempatan jalan raya beliau dipuja sebagai Sanghyang Catur Bhuwana.
  5. Di pertigaan jalan raya beliau dipuja sebagai Sanghyang Sapu Jagat
  6. Di Kuburan atau Setra Agung beliau dipuja sebagai Bhatara Durga
  7. Di tunon / di pemuwunan (tempat pembakaran mayat) beliau dipuja sebagai Sanghyang Bherawi.
  8. Di Pura Pengulun Setra, beliau dipuja sebagai Sanghyang Mrajapati
  9. Di Laut, beliau dipuja sebagai Sangyang Mutering Bhuwana
  10. Di Langit, beliau dipuja sebagai Bhuwana Taskarapat
  11. Di Gunung Agung, beliau dipuja sebagai Sanghyang Giri Putri
  12. Di Gunung Lebah, beliau dipuja sebagai Dewi Danu
  13. Di Pancuran Air, beliau dipuja sebagai Sanghyang Gayatri
  14. Di Aliran sungai, beliau dipuja sebagai Betari Gangga
  15. Di Sawah, beliau dipuja sebagai Dewi Uma
  16. Di Jineng atau lumbung padi, beliau dipuja sebagai Dewi Uma
  17. Di Bejana (Tempat beras), beliau dipuja sebagai Sanghyang Pawitra Saraswati.
  18. Di dalam priuk Nasi / makanan, beliau dipuja sebagai Sanghyang Tri Merta
  19. Di Kemulan, beliau dipuja sebagai Sang Hyang Atma
  20. Di ruang kanan Pelinggih Kamulan adalah bapa disebut Sang Hyang Paratma
  21. Di ruang kiri Kamulan adalah ibu disebut Sang Hyang Siwatma
  22. Di ruang tengah Kamulan raganta menjadi Brahma sebagai ibu dan bapa menjadi Sang Hyang Tuduh.
Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk semeton sareng sami. Jika ada penjelasan yang kurang lengkap atau kurang tepat. Mohon dikoreksi bersama. Ampure yening wenten iwang, suksma....…











Mr. Brain Revolution
dikutip dari pelbagai sumber

Purusa-Pradana, Pura Penataran Agung Ped Nusa Penida

Written By hyangsari on Kamis, 20 Desember 2012 | 01.00.00

Pura Penataran Agung Ped
Semburkan Atmosfer Kekuatan Ratu Gede Nusa


Di sebuah desa, persisnya di Desa Ped, Sampalan, Nusa Penida, ada sebuah pura yang sangat terkenal di seluruh pelosok Bali. Pura Penataran Agung Ped nama tempat suci itu. Berada sekitar 50 meter sebelah selatan bibir pantai lautan Selat Nusa. Karena pengaruhnya yang sangat luas yakni seluruh pelosok Bali, Pura Penataran Agung Ped disepakati sebagai Pura Kahyangan Jagat. Pura ini selalu dipadati pemedek untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, kerahayuan, dan ketenangan. Hingga saat ini, pura ini sangat terkenal sebagai salah satu objek wisata spiritual yang paling diminati.

Pada awalnya, informasi tentang keberadaan Pura Pentaran Agung Ped sangat simpang-siur. Sumber-sumber informasi tentang sejarah pura itu sangat minim, sehingga menimbulkan perdebatan yang lama. Kelompok (Puri Klungkung, Puri Gelgel dan Mangku Rumodja -- Mangku Lingsir) menyebutkan pura itu bernama Pura Pentaran Ped. Yang lainnya, khususnya para balian di Bali, menyebut Pura Dalem Ped.

Seorang penekun spiritual dan penulis buku asal Desa Satra, Klungkung, Dewa Ketut Soma dalam tulisannya tentang Selayang Pandang Pura Ped beranggapan bahwa kedua sebutan dari dua versi yang berbeda itu benar adanya. Menurutnya, yang dimaksudkan adalah Pura Dalem Penataran Ped. Hanya, satu pihak menonjolkan penatarannya. Satu pihak lainnya lebih menonjolkan dalemnya.

Selain itu, beberapa petunjuk yang menyebutkan pura itu pada awalnya bernama Pura Dalem. Dalam buku Sejarah Nusa dan Sejarah Pura Dalem Ped yang ditulis Drs. Wayan Putera Prata menyebutkan Pura Dalem Ped awalnya bernama Pura Dalem Nusa. Penggantian nama itu dilakukan tokoh Puri Klungkung pada zaman I Dewa Agung. Penggantian nama itu setelah Ida Pedanda Abiansemal bersama pepatih dan pengikutnya secara beriringan (mapeed) datang ke Nusa dengan maksud menyaksikan langsung kebenaran informasi atas

Uppsssssssss .... Topeng Jauk Nyari Nyamuk, Di Paibon Hyang Sari Saat Odalan

Written By hyangsari on Minggu, 05 Februari 2012 | 22.56.00

Tari Jauk dan penari  kerahuan, Foto selengkapnya klik disini
Pada hari Minggu tanggal 5 Pebruari 2012, yang merupakan wuku redite wage kuningan,  warga paibon Hyang Sari melakukan piodalan. Piodalan ini merupakan rangkaian ritual yang selalu dilaksanakan setiap enam sasih (enam bulan) sekali. Piodalan hari ini merupakan piodalan nadi karena enam sasih yang lalu dilakukan piodalan encak.

Rencana piodalan yang dimulai jam 15.00 Wita ternyata sedikit molor karena disebabkan adanya persiapan disana sini yang kurang rampung, namun begitu warga sudah berdatangan sejak pukul 14:30 Wita.

Pada jam 15.15 sekaa batel banjar kangin ungasan mulai berdatangan dengan membawa gamelan ke tempat gong di paibon Hyang Sari. Kami dengan beberapa warga duduk-duduk dipemaksan pura sempat berbincang mengenai banyak hal sambil menununggu prosesi odalan berlangsung.

Sekaa kidung sudah mulai mendendangkan kidungan sejak pukul 15:00 wita, dengan dentuman  gong yang

Apa Perbedaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali?

Written By hyangsari on Rabu, 29 Juni 2011 | 14.35.00

Adanya perayaan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali menjelang hari raya Galungan dan Kuningan harus diakui belum begitu dipamahi konsepsinya oleh umat. Hanya sering disebutkan bahwa konsepsi Sugihan itu disebutkan sebagai penghormatan kepada batara-batari yang berstana di sanggah (merajan) dan penghormatan kepada leluhur. Namun, di balik rutinitas upacara tersebut sebenarnya ada makna mendalam terkait dengan persiapan umat Hindu secara spiritual sebelum memasuki hari raya Galungan. Tetapi dengan adanya perbedaan kata di belakang sugihan yakni Jawa dan Bali tentu saja melahirkan pertanyaan kenapa bisa muncul dua nama itu? Adakah kaitannya dengan asal-muasal dari mereka yang merayakan masing-masing sugihan tersebut? Lantas bagaimanakah sesungguhnya makna dari sugihan itu sendiri?

Menurut Drs. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si., Wakil Ketua I Parisada Bali, membicarakan makna filosofis hari sugihan tidak bisa dipisah-pisahkan dengan hari lainnya yang masih merupakan rangkaian hari raya Galungan dan Kuningan. Rangkaian perayaan yang sudah dimulai sejak 25 hari sebelum Galungan tepatnya pada Saniscara Kliwon wuku Wariga atau yang lebih dikenal dengan Tumpek Wariga. Pada saat ini umat mengaturkan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang Hyang Sangkara. Dalam pengider bhuwana letaknya di Pucak Mangu. Umat pada Tumpek Wariga (Tumpek Pengatag) ini melakukan komunikasi dengan penguasa tumbuh-tumbuhan. Adapun tumbuh-tumbuhan yang diutamakan adalah yang menghasilkan bahan-bahan yang bisa digunakan sebagai sesaji persembahan untuk hari raya Galungan dan Kuningan. Dalam peng-aci-aci-nya, umat memohon dengan jelas kepada penguasa tumbuh-tumbuhan untuk melimpahkan buah-buahan yang akan digunakan pada saat Galungan.

Secara filosofi, kata Sudiana yang juga dosen STAHN Denpasar ini, dari perayaan Tumpek Wariga sesungguhnya umat Hindu diharapkan untuk mempersiapkan pelaksanaan hari raya Galungan dan Kuningan dengan niat dan pikiran yang suci. ''Mulai Tumpek Wariga ini umat Hindu menjalani pendakian spiritualnya untuk menyambut perayaan Galungan dan Kuningan,'' kata Sudiana.

Pendakian spiritual umat Hindu tersebut makin menjalani tahap yang lebih tinggi saat mendekati hari raya Galungan. Karena itu, pada Wraspati Wage dan Sukra Kliwon wuku Sungsang yang lebih dikenal dengan Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, umat Hindu mulai melakukan pembersihan-pembersihan di sejumlah tempat suci.

Dalam pandangan Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Bali I Gusti Made Ngurah, makna dan filosofi kedua sugihan tersebut adalah sebagai pembersihan makrokosmos (alam semesta) dan

Babad Arya Kanuruhan (Brangsinga, Tangkas, Pegatepan)

Written By hyangsari on Kamis, 10 Maret 2011 | 02.49.00

Terdorong keinginan untuk mengetahui riwayat dari kawitan Tangkas yang hingga sekarang ini masih kacau karena masing-masing buku memberikan penjelasan-penjelasan yang berbeda-beda, sehingga timbul niat kami untuk mencari titik kebenaran tentang riwayat Tangkas tersebut, seperti asal usul mereka dan apa fungsinya di dalam menjalankan tugas negara dan Agama.

Untuk menelusuri ini kami mulai bertitik tolak dari sejarah Zaman Kediri, Singosari dan Majapahit karena ketiga kerajaan ini dapat memberikan andil yang sangat besar terutama dalam bidang Kesusasteraan, oleh karena itu kesusastraan pada zaman ini banyak menguraikan tokoh tokoh yang nantinya sangat erat hubungannya dengan warga- warga yang ada di Bali
Ruang Lingkup.
Dalam menguraikan suatu babad, perlu kami batasi sampai di mana kami menggali babad tersebut. Riwayat ini kami gali mulai adanya kerajaan Kediri, yang kemudian di lanjutkan dengan berdirinya kerajaan Singosari dan Majapahit, Expedisi (Gajah Mada ke Pulau Bali, yang diperintah oleh Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten, dengan Maha Patihnya yang bernama Ki Pasung Grigis, membawa suatu hikmah tersendiri terhadap perkembangan Warga yang berada di pulau Bali. Setelah beberapa lama maka Gajah Mada mengirim raja ke Bali yaitu Kresna Kepakisan dengan bersetana di Samplangan. Setelah berhasilnya pemerintahan Sri Kresna Kepakisan maka masing-masing Arya diangkat menjadi Menteri atau Punggawa.
Di dalam beberapa naskah menyebutkan bahwa Arya Kanuruhan mendapat tugas di Tangkas, dan Arya inilah yang mendirikan tempat pemujaan di Desa Tangkas, guna memuja leluhur mereka yang ada di Tanah Jawa, yang kemudian menjadilah Pura Kawitan Tangkas Kori Agung sekarang.
Demikianlah ruang lingkup pembahasan kami dalam menyusun riwayat Arya Kanuruhan, sebagai peletak batu pertama di Pura Kawitan Tangkas.
LELUHUR KELUARGA ARYA KANURUHAN DI TANAH JAWA.
Untuk menelusuri leluhur keluarga Tangkas di tanah Jawa, kita tidak dapat lepas dari kerajaan Kediri karena leluhur Tangkas ini dibesarkan di keraton Kediri
Pada tahun 1222, maka memerintahlah raja Kediri yang terakhir yang bcrnama Kertajaya (sering disebut dangan nama Dandang Gendis Kemudian raja Kertajaya mendapat serangan dari Ken Arok, sehingga terjadilah pertempuran yang sengit antara Ken Arok dan pasukan Kediri dimana pasukan Kediri berhasil dikalahkan dalam pertempuran. Di dalam masa kehancuran dari kerajaan Kediri ini, maka pasukan Kediri lari tunggang langgang.
Maka tersebut dua orang perwira yang sangat gagah berani yang masih ada hubungan darah dengan Jaya Katowang dan Ciwa Waringin yaitu Jaya Katha dan Jaya Waringin. Didalam pertempuran yang sengit Jaya Katha dapat pula melarikan diri beserta dengan istrinya de daerah Tumapel, dimana istri tersebut sedang hamil tua Di daerah Tumapel inilah beliau disambut oleh keluarga Gajah Para keluarga dari istri dan keluarga Kebo Ijo.
Di daerah Tumapel beliau lama disana yang akhimya beliau melahirkan 3 ( tiga ) orang putra seperti tersebut dalam Babad Arya Kanuruhan sebagai berikut :
”Pira kunang Suwenira hanengkana marek pawekang kala, ri wekasan Jaya Katha awangsa jaiu tatiga; Jyesta abhiseka Arya Wayahnn Dalem Manyeneng. Panghulu apanagaran Arya Katanggaran, Pamungsu Arya Nuddhata, tan waneh ibu sira katiga sangkana Wangsan sira Jaya Katha”.
Terjemahannya :

Setelah sedemikian lama beliau berada di sana (Tumapel) maka akhirnya Jaya Katha melahirkan 3 orang putra yang bernama Arya Wayahan Dalem. Yang ke dua, Arya Katanggaran, dan ketiga yang terkecil bernama Arya Nuddhata, oleh karena ibu mereka berjumlah 3 (tiga ) orang, demikianlah keturunan Jaya Katta
Tersebutlah sekarang putra beliau yang Nomor dua yang bernama Arya Katanggaran mengambil istri dari keluarga Kebo Ijo. Yang mana akhimya perkawinan ini melahirkan Kebo Anabrang beliau diberi nama Kebo Anabrang karena beliau diutus oleh raja Singosari ke daerah seberang Melayu dalam rangka memupuk persahabatan dengan kerajaan Melayu dan Sri Wijaya karena kedua negara ini memiliki angkatan Laut yang sangat kuat dan Sri Wijaya adalah negara Marinir. Dalam rangka persahabatan ini, Kebo Anabrang datang ke Tanah Melayu dengan pasukan yang disebut cicngan nama pasukan Pamalayu (1275 1 292) Kedatangan pasukan Pemelayu dari daerah Melayu setelah menyelesaikan masa tugasnya maka setibanya di Singosari mereka tidak melihat lagi kerajaan Singosari, sehingga datanglah Kebo Anabrang ke kerajaan Mojopahit karena kerajaan Mojopahit adalah di perintah oleh Raden Wijaya yang merupakan pewaris langsung dari kerajaan Singosari. Disamping Raden Wijaya juga mengawasi ke empat putra kerajaan Singosari.
Kedatangan Kebo Anabrang dari Melayu maka beliau membawa dua orang putri yang bernama Dara Petak dan Dara Jingga kedua puitri kerajaan Melayu ini dipersembahkan kepada Raden Wijaya. Dara Petak diperistri oleh Raden Wijaya, yang nantinya melahirkan putra bernama Kala Gemet. Sedangkan Dara Jingga kawin dengan keluarga raja maka lahirlah Aditya Warman, yang nantinya menjadi raja di kerajaan Melayu.
Kedatangan pasukan Pemelayu ini membuat besarnya hati Raden Wijaya di kerajaan Mojopahit, oleh karena itu beliau menobatkan diri menjadi raja pada tahun 1294, serta di dampingi oleh Panglima perang Kebo Anabrang. Setelah beberapa lama Kebo Anabrang bertempat tinggal di Mojopahit, akhirnya beliau mengambi! istri dari keluarga ksatrya keturunan Singosari. Perkawinan dengan putri Singosari, melahirkanlah ia seorang putra bernama Kebo Taruna, yang merupakan nama yang diberikan oleh ayah beliau saat beliau masih kecil, sedangkan nama julukan yang diberikan kepadanya, bila menghadapi perang dan sebagai Panglima perang, adalah Sirarya Singha Sardhula, karena beliau bagaikan Singha menghadapi musuh di medan perang. Lama kelamaan Kebo Taruna ini diberi pula julukan Kanuruhan saat beliau diajak oleh Gajah Mada mengadakan penyerangan ke Bali, dalam rangka melaksanakan sumpah Palapa. Beliau diberi nama Kanuruhan karena jabatan beliau dalam Expidisi ke Bali, beliau diberikan pangkat sebagai Kanuruhan, yang lama kelamaan beliau memakai gelar Sirarya Kanuruhan.
PERKEMBANGAN KELUARGA KANURUHAN DI BALI

Tahun 1343 adalah merupakan tahun Expedisi (penyerangan) Gajah Mada ke tanah Bali, karena pada waktu ini Raja Bali yang bergelar Sri Asta Sura Ratna Bhumi Banten telah merasa yakin akan kekuatan dirinya dan ingin melepaskan diri dari kerajaan Mojopahit yang pada waktu ini diperintah oleh seorang raja putri bernarna Tri Bhuana Tungga Dewi, karena pada umumnya raja-raja Bali sangat erat hubungannya (hubungan darah) dengan raja Kediri, sehingga sangatlah sukar bagi raja Bali untuk melepaskan diri dengan raja Kediri. Untuk itu raja Bali mengadakan persekongkelan dengan raja Suradenta dan Suradenti dari Kerajaan Blambangan dalam rangka bekerja sama untuk menggempur Mojopahit, dan kerja sama ini di tanda tangani oleh Maha Patih Pasung Grigis mengatasnamakan raja.
Pimpinan Expedisi ke tanah Bali, dipimpin langsung oleh Gajah Mada beserta Arya-Arya lainnya sehingga Bali di kepung dan di gempur dari empat jurusan yakni dari jurusan Timur di bawah pimpinan Gajah Mada. Dari jurusan Utara di bawah pimpinan Arya Damar, Arya Sentong dan Arya Kuta Waringin. Dari jurusan Barat di pimpin oleh tentara Sunda. Dari jurusan Selatan di pimpin oleh Arya Kenceng, Arya Belog, Pengalasan, Arya kanuruhan, dan Arya Belotong.
Sedangkan Panglima Bali pada saat ini muncul. Menghadapi serangan Timur, dipimpim oleh Ki Tunjung Tutur dan Ki Kopang. Menghadapi serangan dari Utara Ki Girilemana dan Ki Bwangkang. Menghadapi serangan dari Selatan, di pimpin oleh Ki Gudug Basur, Dhemung. Anggeh, dan Ki Tambyak, Menghadapi serangan umum, Ki Pasung Grigis dan Pangeran Madatama.
Dalam perang yang sengit ini masing-masing Panglima telah di hadang oleh Panglima Bali, maka tersebut si Arya Kanuruhan yang memimpin pasukan dari Selatan disambut dengan gegap gempita oleh tentara Bali dengan sorak gemuruh beserta gagah perkasa sehingga terjadi pertempuran yang sangat mengerikan, banyak para tentara yang gugur di medan perang. Ki Tambyak dapat di kalahkan oleh si Arya Kenceng, sedangkan Ki Gudug Basur sangat kebal tidak ditembus dengan senjata. Perang yang dasyat antara Si Arya Kanuruhan dengan Ki Gudug Basur, sama-sama kuat dan sama sama kebal. Oleh karena Ki Gudug Basur hanya sendirian, menghadapi Panglima Mojopahit silih berganti, akhimya Ki Gudug Basur mati kepayahan kehabisan nafas.
Bedahulu terkepung dari semua jurusan pertempuran berkobar dan menimbulkan korban yang sangat banyak.
Pangeran Madatama pemimpin perang merupakan putra mahkota, kerajaan Bedahulu gugur dalam pertempuran dan gugurnya putra mahkota ini menyebabkan sedihnya raja Bedahulu dan akhirnya wafat. Pertempuran di lanjutkan oleh Ki Pasung Gerigis dan pasukan Ki Pasung Gerigis tidak mampu ditandingi oleh pasukan Gajah Mada dan Arya lainnya sehingga pasukan Gajah Mada merasa kewalahan menghadapi pasukan Pasung Grigis, yang akhimya pasukan Gajah Mada menaikkan bendera putih, untuk mengadakan perundingan dengan Pasung Grigis. Pasung Grigis sangat gembira karena itu terjadilah persahabatan dengan tentara Mojopahit. Pada saat terjadi perdamaian ini datanglah utusan dari Mojopahit, yaitu Kuda Pengasih yang merupakan adik sepupu dari Ken Bebed yaitu istri dari Gajah Mada. Kedatangan Kuda Pengasih ke Bali untuk memohon agar Gajah Mada cepat kembali ke keraton Mojopahit.
Pada kesempatan yang baik ini Gajah Mada mengajak Ki Pasung Grigis pergi ke Mojopahit dengan membawa emas manik, sebagai tanda persahabatan. Setelah berada di Mojopahit Ki Pasung Grigis merasa dirinya tertipu, dimana ia menang perang, namun kalah taktik, karena menghadap Mojopahit berarti kalah total.
Pada saat Gajah Mada meninggalkan Bali, maka untuk keamanan pulau Bali, maka Gajah Mada menempatkan tentaranya di pulau Bali sebagai berikut:
  • Arya Kuta Waringin di Gelgel
  • Arya Kenceng di Tabanan.
  • Arya Barya Dalancang diKapal
  • Arya Belotong di Pacung.
  • Arya Sentong di Carang sari
  • Arya Kanuruhan di Tangkas.
  • Kryan Punta di Mambal.
  • Kryan Jerudeh di Temukti.
  • Kryan Tumenggung di Patemon
  • Arya Demung Wang Bang di Kertalangu (keturunan Kediri . Arya Sura Wang Bang ( Keturunan Lasem ) di Sukahet.
  • Arya Wang Bang ( Keturunan Mataram ) di pusat Bedahulu,
  • Arya Melel Cengkrong (Jaran bhana) di Jembrana.
  • Arya Pemacekang di Bondalem.
Untuk meredakan hati Ki Pasung Grigis terhadap Mojopahit maka Pasung Grigis diangkat sebagai menteri kerajaan Bedahulu, namun tetap diawasi oleh Gajah Mada, Untuk menguji kesetiaan Pasung Grigis terhadap Mojopahit maka Pasung Grigis di perintahkan untuk menumpas gerakan raja Sumbawa, yang bernama Dedela Natha, yang ingin melepaskan diri terhadap kerajaan Mojopahit, disinilah Ki Pasung Grigis mati dalam medan perang bersama- sama dengan raja Sumbawa dalam perang tanding.
Dengan tiadanya Ki Pasung Grigis terjadilah kekosongan pemerintahan di pulau Bali, walaupun sebahagian besar tentara Expidisi Gajah Mada di tempatkan di pulau ini untuk mengawasi keamanan, tetapi ternyata pasukan ini tidak mempu menjamin ketertiban sepenuhnya, karena tentara Mojopahit kurang bijaksana dan selalu memperlihatkan keangkuhan sebagai seorang pemenang, sedangkan orang Bali belum bisa menerima pemerintahan Mojopahit yang bukan merupakan keturunan raja-raja Daha, dengan demikian keadaan semakin menjadi kacau karena munculnya pemberontakan-pemberontakan.
Melihat keadaan Bali semakin rumit, maka Patih Ulung, Pamacekan dan Ki Pasekan, Kiyayi Padang Subadra memberanikan diri menghadap ke Mojopahit dan mohon diadakan wakil raja yang mampu meredakan ketegangan yang ada di tanah Bali.
Terpikirlah oleh Maha Patih Gajah Mada untuk mencari tokoh yang masih ada hubungannya dengan raja-raja Daha, tetapi tidak diragukan kesetiaannya terhadap Mojopahit. Setelah dirundingkan maka terpilihlah putra dari Mpu Kepakisan yang bernama Empu Kresna Kepakisan seorang keluarga Brahmana yang masih ada hubungan darah dengan Daha (Kediri), sehingga dengan pengangkatan ini maka statvis ke Brahmanaannya diturunkan menjadi Ksatrya.
Kedatangan Dalem Ketut Kresna Kepakisan menjadi raja di Bali (Beliau dinobatkan pada tahun ”Yoga Munikang netra den ing Bhaskara (1274 Caka)” maka beliau tidak memilih tempat di Bedahulu. Akan tetapi beliau menempatkan diri di Samprangan, dengan maksud untuk menjauhkan diri dari ketegangan- ketegangan dalam ibu kota, akan tetapi cukup dekat untuk mengadakan pengawasan, sehingga pemerintahan dapat berjalan dengan obyektif. Ketertiban Bali ternyata belum bisa ditertibkan, banyak orang Bali Aga masih belum mau menyatakan setia kepada penguasa Samprangan, walaupun sudah dipenuhi tuntutan- tuntutan mereka seperti yang pernah disampaikan oleh Patih Ulung. Untuk melemahkan pemberontakan Bali Aga tersebut maka Gajah Mada mengirim beberapa pasukannya ke Bali , seperti : Tan Kober, Tan Kawur, Tan Mundur, dan Arya Gajah Para, sehingga terjepitlah daerah Bali Aga, dan tidak dapat berbuat banyak.
Setelah aman kerajaan, maka disusunlah struktur pemerintahan Bali seperti:
  • Raja: Penguasa tertinggi.
  • Patih Agung: Perdana Menteri.
  • Patih.
  • Bata Mantra (Tanda Manteri. )
  • Demung (Urusan Upacara ).
  • Temenggung (Pemimpin tentara Rakyat).
Di dalam mengatur pemerintahan, maka Arya Kanuruhan dan Arya Kuta Waringin mendapat tempat sebagai menteri Sekretaris Negara, karena kedua orang ini merupakan ksatrya keturunan Kediri, dan sangat pandai dalam ilmu pemerintahan Negara. Untuk mengisi kekosongan dalam pemerintahan, maka diangkatlah Pangeran Nyuh Aya menjadi Patih Agung, Arya Wangbang menjadi Demung. Demikianlah akhimya raja Kresna Kepakisan Wafat pada tahun saka 1302.
Tersebutlah sekarang Si Arya Kanuruhan yang menjadi Menteri Sekretaris Negara dan bertempat tinggal di wilayah Tangkas kini beliau telah menginjak masa tua dan beliau telah banyak menulis buku-buku tentang Sasana Mantri (job training dari masing- masing Mantri) oleh karena itu beliau selalu diikut sertakan sebagai pendamping raja guna memberikan pertimbangan sesuatu sebelum diputuskan oleh raja.

Sebagai generasi penerus yang dilahirkan oleh Arya Kanuruhan antara lain adalah:
  • Arya Brangsinga, anak yang tertua
  • Arya Tangkas, adalah putra beliau yang nomor 2 ( dua ).
  • Arya Pegatepan adalah putra beliau yang nomor 3

BRANGSINGA

Putra beliau seperti tersebut di atas memiliki ilmu yang sama dalam pemerintahan negara oleh karena itu kesemua putra beliau dipergunakan sebagai pendamping raja. Sedangkan putra beliau yang tertua yaitu Arya Brangsinga diangkat oleh raja sebagai pengganti ayahanda Arya Kanuruhan sebagai menteri Sekretaris Negara. Yang sangat menyukarkan bagi Arya Brangsinga dalam pemerintahan, karena sang raja yang bergelar Dalem Hile kurang waras, sehingga akhimya banyak yang menghadap dari Jawa tidak puas, oleh karena itu Arya Brangsinga akhimya mengadakan sidang kerajaan untuk mengambil keputusan untuk pengangkatan Dalem ketut Ngelesir menjadi Raja. Beliau Dalem Ketut Ngelesir, setiap hari pergi ke desa-desa untuk berjudi, berkat kebijaksanaan para Mantri maka akhimya beliau diketemukan di desa Pandak oleh Bendesa Gelgel dan disini beliau dimohonkan untuk menjadi raja, sehingga berdirilah kerajaan baru, yaitu kerajaan Gelgel, tahun 1305 Caka.

TRI SANDHYA

Written By hyangsari on Jumat, 25 Februari 2011 | 00.03.00

Marilah kita memuja Tuhan, Ida Hyang Widhi Waรงa

Pemujaan kepada Tuhan dapat dilaksanakan dengan banyak cara. Salah satu di antaranya ialah dengan bersembahyang tiap hari. Kita yang beragama Hindu bersembahyang tiga kali sehari, pagi, siang dan malam hari. Sembahyang demikian disebut sembahyang Trisandhya. Mantram yang dipakaipun disebut mantram Trisandhya.

Mantram ini ditulis dalam bahasa Sansekerta, bahasa orang Hindu jaman dahulu. Kita boleh bersembahyang dengan duduk bersila, duduk bersimpuh atau berdiri tegak sesuai dengan tempat yang tersedia. Sikap duduk bersila disebut padmasana. Sikap duduk bersimpuh

Babad Paibon Hyang Sari Ungasan

Written By hyangsari on Jumat, 17 Desember 2010 | 22.42.00

Menurut tanggal yang tertera di kori masuk kepura yaitu 14 September 1960, di pastikan bahwa kori itu didirikan pada tanggal yang bersangkutan namun pada saat tersebut pura paibon sudah berdiri secara lengkap. Lalu kapan Pura Paibon didirikan?. Siapa pendirinya?,  masih menjadi tanda tanya yang harus dikaji dan ditelususri jawabannya.

foto oleh I Wayan Arjawa: saat odalan, acara ngrenteng, tgl: 12/12/2010
Namun dari peninggalan 2 sekenem yang ada dilingkungan paibon, diperkirakan Pura Paibon ini didirikan 2 saudara kandung minimal itu yang bisa disimpulkan oleh Bapak Wayan Purja dan Ni Made Nyimprig yang dianggap sebagai salah satu pengelingsir di Paibon ini.

Mengenai kapan berdirinya tentu ini berkaitan erat dengan berdirinya Desa Ungasan, yang mana ketika awal berdirinya sebuah Desa tentu harus mempunyai kayangan tiga, minimal itu yang menjadi syarat sehingga suatu tempat bisa dikatakan sebagai desa pekraman. Dengan berdirinya kayangan tiga akan diikuti oleh pendiriaan paibon-paibon dari keluarga yang menempatinya.

Paibon Hyang Sari Ungasan diperkirakan didirikan sedikit-demi sedikit. Sesuai dengan ajaran agama hindu setiap kepala keluarga bila mempunyai suatu rumah haruslah ada sanggah-sanggah sebagai berikut:
  • Padmasari: merupakan pelinggihan  Shang Hyang Sambhu, yang berfungsi untuk menyinari sanggah-sanggah yang lainnya (padma ini tidak setiap KK harus ada hanya untuk KK yang tertentu yang diminta oleh para leluhur).
  • Sanggah Kemulan: merupakan sanggah pelinggihan para leluhur, yang mempunyai 3 ruang atau rong telu, berfungsi ketika suatu keluarga mencari pengupa jiwa, agar bisa berjalan dengan lancar.
  • Taksu: merupakan pelinggihan leluhur istri.
  • Pengelurahan: merupakan pelinggihan dewa pengelurahan, yang didalam mercepada ini seperti kesinoman, berfungsi untuk menyampaikan berita dari kahyangan kepada para leluhur yang berstana
 
Support : Dre@ming Media | Dre@ming Post | I Wayan Arjawa, S.T.
Copyright © 2011. Paibon Hyang Sari Ungasan - All Rights Reserved
Template Created by Excata Published by DLC
Proudly powered by Dre@ming Media