Terdorong
keinginan untuk mengetahui riwayat dari kawitan Tangkas yang hingga
sekarang ini masih kacau karena masing-masing buku memberikan
penjelasan-penjelasan yang berbeda-beda, sehingga timbul niat kami
untuk mencari titik kebenaran tentang riwayat Tangkas tersebut, seperti
asal usul mereka dan apa fungsinya di dalam menjalankan tugas negara
dan Agama.
Untuk menelusuri ini kami mulai bertitik
tolak dari sejarah Zaman Kediri, Singosari dan Majapahit karena

ketiga
kerajaan ini dapat memberikan andil yang sangat besar terutama dalam
bidang Kesusasteraan, oleh karena itu kesusastraan pada zaman ini
banyak menguraikan tokoh tokoh yang nantinya sangat erat hubungannya
dengan warga- warga yang ada di Bali
Ruang Lingkup.
Dalam menguraikan suatu babad, perlu
kami batasi sampai di mana kami menggali babad tersebut. Riwayat ini
kami gali mulai adanya kerajaan Kediri, yang kemudian di lanjutkan
dengan berdirinya kerajaan Singosari dan
Majapahit, Expedisi (Gajah Mada ke Pulau Bali, yang diperintah oleh Sri
Asta Sura Ratna Bumi Banten, dengan Maha Patihnya yang bernama Ki
Pasung Grigis, membawa suatu hikmah tersendiri terhadap perkembangan
Warga yang berada di pulau Bali. Setelah beberapa lama maka Gajah Mada
mengirim raja ke Bali yaitu Kresna Kepakisan dengan bersetana di
Samplangan. Setelah berhasilnya pemerintahan Sri Kresna Kepakisan maka
masing-masing Arya diangkat menjadi Menteri atau Punggawa.
Di dalam beberapa naskah menyebutkan
bahwa Arya Kanuruhan mendapat tugas di Tangkas, dan Arya inilah yang
mendirikan tempat pemujaan di Desa Tangkas, guna memuja leluhur mereka
yang ada di Tanah Jawa, yang kemudian menjadilah Pura Kawitan Tangkas
Kori Agung sekarang.
Demikianlah ruang lingkup pembahasan
kami dalam menyusun riwayat Arya Kanuruhan, sebagai peletak batu
pertama di Pura Kawitan Tangkas.
LELUHUR KELUARGA ARYA KANURUHAN DI TANAH JAWA.
Untuk menelusuri leluhur keluarga
Tangkas di tanah Jawa, kita tidak dapat lepas dari kerajaan Kediri
karena leluhur Tangkas ini dibesarkan di keraton Kediri
Pada tahun 1222, maka memerintahlah raja
Kediri yang terakhir yang bcrnama Kertajaya (sering disebut dangan
nama Dandang Gendis Kemudian raja Kertajaya mendapat serangan dari Ken
Arok, sehingga terjadilah pertempuran yang sengit antara Ken Arok dan
pasukan Kediri dimana pasukan Kediri berhasil dikalahkan dalam
pertempuran. Di dalam masa kehancuran dari kerajaan Kediri ini, maka
pasukan Kediri lari tunggang langgang.
Maka tersebut dua orang perwira yang
sangat gagah berani yang masih ada hubungan darah dengan Jaya Katowang
dan Ciwa Waringin yaitu Jaya Katha dan Jaya Waringin. Didalam
pertempuran yang sengit Jaya Katha dapat pula melarikan diri beserta
dengan istrinya de daerah Tumapel, dimana istri tersebut sedang hamil
tua Di daerah Tumapel inilah beliau disambut oleh keluarga Gajah Para
keluarga dari istri dan keluarga Kebo Ijo.
Di daerah Tumapel beliau lama disana
yang akhimya beliau melahirkan 3 ( tiga ) orang putra seperti tersebut
dalam Babad Arya Kanuruhan sebagai berikut :
”Pira kunang Suwenira hanengkana marek
pawekang kala, ri wekasan Jaya Katha awangsa jaiu tatiga; Jyesta
abhiseka Arya Wayahnn Dalem Manyeneng. Panghulu apanagaran Arya
Katanggaran, Pamungsu Arya Nuddhata, tan waneh ibu sira katiga sangkana
Wangsan sira Jaya Katha”.
Terjemahannya :
Setelah sedemikian lama beliau berada
di sana (Tumapel) maka akhirnya Jaya Katha melahirkan 3 orang putra
yang bernama Arya Wayahan Dalem. Yang ke dua, Arya Katanggaran, dan
ketiga yang terkecil bernama Arya Nuddhata, oleh karena ibu mereka
berjumlah 3 (tiga ) orang, demikianlah keturunan Jaya Katta
Tersebutlah sekarang putra beliau yang
Nomor dua yang bernama Arya Katanggaran mengambil istri dari keluarga
Kebo Ijo. Yang mana akhimya perkawinan ini melahirkan Kebo Anabrang
beliau diberi nama Kebo Anabrang karena beliau diutus oleh raja
Singosari ke daerah seberang Melayu dalam rangka memupuk persahabatan
dengan kerajaan Melayu dan Sri Wijaya karena kedua negara ini memiliki
angkatan Laut yang sangat kuat dan Sri Wijaya adalah negara Marinir.
Dalam rangka persahabatan ini, Kebo Anabrang datang ke Tanah Melayu
dengan pasukan yang disebut cicngan nama pasukan Pamalayu (1275 1 292)
Kedatangan pasukan Pemelayu dari daerah Melayu setelah menyelesaikan
masa tugasnya maka setibanya di Singosari mereka tidak melihat lagi
kerajaan Singosari, sehingga datanglah Kebo Anabrang ke kerajaan
Mojopahit karena kerajaan Mojopahit adalah di perintah oleh Raden
Wijaya yang merupakan pewaris langsung dari kerajaan Singosari.
Disamping Raden Wijaya juga mengawasi ke empat putra kerajaan
Singosari.
Kedatangan Kebo Anabrang dari Melayu
maka beliau membawa dua orang putri yang bernama Dara Petak dan Dara
Jingga kedua puitri kerajaan Melayu ini dipersembahkan kepada Raden
Wijaya. Dara Petak diperistri oleh Raden Wijaya, yang nantinya
melahirkan putra bernama Kala Gemet. Sedangkan Dara Jingga kawin dengan
keluarga raja maka lahirlah Aditya Warman, yang nantinya menjadi raja
di kerajaan Melayu.
Kedatangan pasukan Pemelayu ini membuat
besarnya hati Raden Wijaya di kerajaan Mojopahit, oleh karena itu
beliau menobatkan diri menjadi raja pada tahun 1294, serta di dampingi
oleh Panglima perang Kebo Anabrang. Setelah beberapa lama Kebo Anabrang
bertempat tinggal di Mojopahit, akhirnya beliau mengambi! istri dari
keluarga ksatrya keturunan Singosari. Perkawinan dengan putri Singosari,
melahirkanlah ia seorang putra bernama Kebo Taruna, yang merupakan
nama yang diberikan oleh ayah beliau saat beliau masih kecil, sedangkan
nama julukan yang diberikan kepadanya, bila menghadapi perang dan
sebagai Panglima perang, adalah Sirarya Singha Sardhula, karena beliau
bagaikan Singha menghadapi musuh di medan perang. Lama kelamaan Kebo
Taruna ini diberi pula julukan Kanuruhan saat beliau diajak oleh Gajah
Mada mengadakan penyerangan ke Bali, dalam rangka melaksanakan sumpah
Palapa. Beliau diberi nama Kanuruhan karena jabatan beliau dalam
Expidisi ke Bali, beliau diberikan pangkat sebagai Kanuruhan, yang lama
kelamaan beliau memakai gelar Sirarya Kanuruhan.
PERKEMBANGAN KELUARGA KANURUHAN DI BALI
Tahun 1343 adalah merupakan tahun
Expedisi (penyerangan) Gajah Mada ke tanah Bali, karena pada waktu ini
Raja Bali yang bergelar Sri Asta Sura Ratna Bhumi Banten telah merasa
yakin akan kekuatan dirinya dan ingin melepaskan diri dari kerajaan
Mojopahit yang pada waktu ini diperintah oleh seorang raja putri
bernarna Tri Bhuana Tungga Dewi, karena pada umumnya raja-raja Bali
sangat erat hubungannya (hubungan darah) dengan raja Kediri, sehingga
sangatlah sukar bagi raja Bali untuk melepaskan diri dengan raja
Kediri. Untuk itu raja Bali mengadakan persekongkelan dengan raja
Suradenta dan Suradenti dari Kerajaan Blambangan dalam rangka bekerja
sama untuk menggempur Mojopahit, dan kerja sama ini di tanda tangani
oleh Maha Patih Pasung Grigis mengatasnamakan raja.
Pimpinan Expedisi ke tanah Bali,
dipimpin langsung oleh Gajah Mada beserta Arya-Arya lainnya sehingga
Bali di kepung dan di gempur dari empat jurusan yakni dari jurusan
Timur di bawah pimpinan Gajah Mada. Dari jurusan Utara di bawah pimpinan Arya Damar, Arya Sentong dan Arya Kuta Waringin. Dari jurusan Barat di pimpin oleh tentara Sunda. Dari jurusan Selatan di pimpin oleh Arya Kenceng, Arya Belog, Pengalasan, Arya kanuruhan, dan Arya Belotong.
Sedangkan Panglima Bali pada saat ini muncul. Menghadapi serangan Timur, dipimpim oleh Ki Tunjung Tutur dan Ki Kopang. Menghadapi serangan dari Utara Ki Girilemana dan Ki Bwangkang. Menghadapi serangan dari Selatan, di pimpin oleh Ki Gudug Basur, Dhemung. Anggeh, dan Ki Tambyak, Menghadapi serangan umum, Ki Pasung Grigis dan Pangeran Madatama.
Dalam perang yang sengit ini
masing-masing Panglima telah di hadang oleh Panglima Bali, maka
tersebut si Arya Kanuruhan yang memimpin pasukan dari Selatan disambut
dengan gegap gempita oleh tentara Bali dengan sorak gemuruh beserta
gagah perkasa sehingga terjadi pertempuran yang sangat mengerikan,
banyak para tentara yang gugur di medan perang. Ki Tambyak dapat di
kalahkan oleh si Arya Kenceng, sedangkan Ki Gudug Basur sangat kebal
tidak ditembus dengan senjata. Perang yang dasyat antara Si Arya
Kanuruhan dengan Ki Gudug Basur, sama-sama kuat dan sama sama kebal.
Oleh karena Ki Gudug Basur hanya sendirian, menghadapi Panglima
Mojopahit silih berganti, akhimya Ki Gudug Basur mati kepayahan
kehabisan nafas.
Bedahulu terkepung dari semua jurusan pertempuran berkobar dan menimbulkan korban yang sangat banyak.
Pangeran Madatama pemimpin perang
merupakan putra mahkota, kerajaan Bedahulu gugur dalam pertempuran dan
gugurnya putra mahkota ini menyebabkan sedihnya raja Bedahulu dan
akhirnya wafat. Pertempuran di lanjutkan oleh Ki Pasung Gerigis dan
pasukan Ki Pasung Gerigis tidak mampu ditandingi oleh pasukan Gajah
Mada dan Arya lainnya sehingga pasukan Gajah Mada merasa kewalahan
menghadapi pasukan Pasung Grigis, yang akhimya pasukan Gajah Mada
menaikkan bendera putih, untuk mengadakan perundingan dengan Pasung
Grigis. Pasung Grigis sangat gembira karena itu terjadilah persahabatan
dengan tentara Mojopahit. Pada saat terjadi perdamaian ini datanglah
utusan dari Mojopahit, yaitu Kuda Pengasih yang merupakan adik sepupu
dari Ken Bebed yaitu istri dari Gajah Mada. Kedatangan Kuda Pengasih ke
Bali untuk memohon agar Gajah Mada cepat kembali ke keraton Mojopahit.
Pada kesempatan yang baik ini Gajah Mada
mengajak Ki Pasung Grigis pergi ke Mojopahit dengan membawa emas
manik, sebagai tanda persahabatan. Setelah berada di Mojopahit Ki
Pasung Grigis merasa dirinya tertipu, dimana ia menang perang, namun
kalah taktik, karena menghadap Mojopahit berarti kalah total.
Pada saat Gajah Mada meninggalkan Bali,
maka untuk keamanan pulau Bali, maka Gajah Mada menempatkan tentaranya
di pulau Bali sebagai berikut:
- Arya Kuta Waringin di Gelgel
- Arya Kenceng di Tabanan.
- Arya Barya Dalancang diKapal
- Arya Belotong di Pacung.
- Arya Sentong di Carang sari
- Arya Kanuruhan di Tangkas.
- Kryan Punta di Mambal.
- Kryan Jerudeh di Temukti.
- Kryan Tumenggung di Patemon
- Arya Demung Wang Bang di Kertalangu (keturunan Kediri . Arya Sura Wang Bang ( Keturunan Lasem ) di Sukahet.
- Arya Wang Bang ( Keturunan Mataram ) di pusat Bedahulu,
- Arya Melel Cengkrong (Jaran bhana) di Jembrana.
- Arya Pemacekang di Bondalem.
Untuk meredakan hati Ki Pasung Grigis
terhadap Mojopahit maka Pasung Grigis diangkat sebagai menteri kerajaan
Bedahulu, namun tetap diawasi oleh Gajah Mada, Untuk menguji kesetiaan
Pasung Grigis terhadap Mojopahit maka Pasung Grigis di perintahkan
untuk menumpas gerakan raja Sumbawa, yang bernama Dedela Natha, yang
ingin melepaskan diri terhadap kerajaan Mojopahit, disinilah Ki Pasung
Grigis mati dalam medan perang bersama- sama dengan raja Sumbawa dalam
perang tanding.
Dengan tiadanya Ki Pasung Grigis
terjadilah kekosongan pemerintahan di pulau Bali, walaupun sebahagian
besar tentara Expidisi Gajah Mada di tempatkan di pulau ini untuk
mengawasi keamanan, tetapi ternyata pasukan ini tidak mempu menjamin
ketertiban sepenuhnya, karena tentara Mojopahit kurang bijaksana dan
selalu memperlihatkan keangkuhan sebagai seorang pemenang, sedangkan
orang Bali belum bisa menerima pemerintahan Mojopahit yang bukan
merupakan keturunan raja-raja Daha, dengan demikian keadaan semakin
menjadi kacau karena munculnya pemberontakan-pemberontakan.
Melihat keadaan Bali semakin rumit,
maka Patih Ulung, Pamacekan dan Ki Pasekan, Kiyayi Padang Subadra
memberanikan diri menghadap ke Mojopahit dan mohon diadakan wakil raja
yang mampu meredakan ketegangan yang ada di tanah Bali.
Terpikirlah oleh Maha Patih Gajah Mada
untuk mencari tokoh yang masih ada hubungannya dengan raja-raja Daha,
tetapi tidak diragukan kesetiaannya terhadap Mojopahit. Setelah
dirundingkan maka terpilihlah putra dari Mpu Kepakisan yang bernama
Empu Kresna Kepakisan seorang keluarga Brahmana yang masih ada hubungan
darah dengan Daha (Kediri), sehingga dengan pengangkatan ini maka
statvis ke Brahmanaannya diturunkan menjadi Ksatrya.
Kedatangan Dalem Ketut Kresna Kepakisan
menjadi raja di Bali (Beliau dinobatkan pada tahun ”Yoga Munikang netra
den ing Bhaskara (1274 Caka)” maka beliau tidak memilih tempat di
Bedahulu. Akan tetapi beliau menempatkan diri di Samprangan, dengan
maksud untuk menjauhkan diri dari ketegangan- ketegangan dalam ibu
kota, akan tetapi cukup dekat untuk mengadakan pengawasan, sehingga
pemerintahan dapat berjalan dengan obyektif. Ketertiban Bali ternyata
belum bisa ditertibkan, banyak orang Bali Aga masih belum mau
menyatakan setia kepada penguasa Samprangan, walaupun sudah dipenuhi
tuntutan- tuntutan mereka seperti yang pernah disampaikan oleh Patih
Ulung. Untuk melemahkan pemberontakan Bali Aga tersebut maka Gajah Mada
mengirim beberapa pasukannya ke Bali , seperti : Tan Kober, Tan Kawur,
Tan Mundur, dan Arya Gajah Para, sehingga terjepitlah daerah Bali Aga,
dan tidak dapat berbuat banyak.
Setelah aman kerajaan, maka disusunlah struktur pemerintahan Bali seperti:
- Raja: Penguasa tertinggi.
- Patih Agung: Perdana Menteri.
- Patih.
- Bata Mantra (Tanda Manteri. )
- Demung (Urusan Upacara ).
- Temenggung (Pemimpin tentara Rakyat).
Di dalam mengatur pemerintahan, maka
Arya Kanuruhan dan Arya Kuta Waringin mendapat tempat sebagai menteri
Sekretaris Negara, karena kedua orang ini merupakan ksatrya keturunan
Kediri, dan sangat pandai dalam ilmu pemerintahan Negara. Untuk mengisi
kekosongan dalam pemerintahan, maka diangkatlah Pangeran Nyuh Aya
menjadi Patih Agung, Arya Wangbang menjadi Demung. Demikianlah akhimya
raja Kresna Kepakisan Wafat pada tahun saka 1302.
Tersebutlah sekarang Si Arya Kanuruhan
yang menjadi Menteri Sekretaris Negara dan bertempat tinggal di wilayah
Tangkas kini beliau telah menginjak masa tua dan beliau telah banyak
menulis buku-buku tentang Sasana Mantri (job training dari masing-
masing Mantri) oleh karena itu beliau selalu diikut sertakan sebagai
pendamping raja guna memberikan pertimbangan sesuatu sebelum diputuskan
oleh raja.
Sebagai generasi penerus yang dilahirkan oleh Arya Kanuruhan antara lain adalah:
- Arya Brangsinga, anak yang tertua
- Arya Tangkas, adalah putra beliau yang nomor 2 ( dua ).
- Arya Pegatepan adalah putra beliau yang nomor 3
BRANGSINGA
Putra beliau seperti tersebut di atas
memiliki ilmu yang sama dalam pemerintahan negara oleh karena itu
kesemua putra beliau dipergunakan sebagai pendamping raja. Sedangkan
putra beliau yang tertua yaitu Arya Brangsinga diangkat oleh raja
sebagai pengganti ayahanda Arya Kanuruhan sebagai menteri Sekretaris
Negara. Yang sangat menyukarkan bagi Arya Brangsinga dalam
pemerintahan, karena sang raja yang bergelar Dalem Hile kurang waras,
sehingga akhimya banyak yang menghadap dari Jawa tidak puas, oleh
karena itu Arya Brangsinga akhimya mengadakan sidang kerajaan untuk
mengambil keputusan untuk pengangkatan Dalem ketut Ngelesir menjadi
Raja. Beliau Dalem Ketut Ngelesir, setiap hari pergi ke desa-desa untuk
berjudi, berkat kebijaksanaan para Mantri maka akhimya beliau
diketemukan di desa Pandak oleh Bendesa Gelgel dan disini beliau
dimohonkan untuk menjadi raja, sehingga berdirilah kerajaan baru, yaitu
kerajaan Gelgel, tahun 1305 Caka.